Renungan

2020-10-21

Setia Kawan

Setia Kawan

Bacaan Alkitab:  

Markus 2: 1-12

“Ketika Yesus melihat iman mereka,  berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu:  “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (ayat 5).

Kasih dinyatakan melalui toleransi.   Orang yang toleran itu ciri-cirinyanya mudah kooperatif dan setia kawan.   

Jadi, kesetiakawan itu seperti sebuah bibit yang kalau ditanam akan tumbuh dan berbunga toleransi.   Toleransi menjadi salah satu bunga indah yang ada di taman kasih Allah.

Seperti apa kesetiakawanan itu?  Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti  sebagai sebuah perasaan bersatu, sependapat, sekepentingan, solider yang ditunjukkan dalam bentuk toleransi kepada orang lain, serta bersedia mengulurkan tangan apabila diperlukan.  

Di dalam kehidupan sehari-hari, setia kawan itu sama dengan solider.  Tetapi ini tentu sangat berbeda dengan solidaritas sebagian para pendemo yang berunjuk rasa akhir-akhir ini di negeri kita.  Mereka berdemo bukan karena dasar kesetiakawanan atau solidaritas.  Mereka berdemo karena dibayar, dan tentu tidak memiliki perasaan bersatu, sekepentingan atau solider dengan para buruh.  Tidak heran bunga yang muncul pun bukan sikap toleransi. Sebaliknya, bunga racun yang mengganggu dan merusak fasilitas umum.

Itu sebabnya bibit kesetiakawanan itu perlu ditabur dari saat ini di pendidikan dasar.  Tujuannya agar generasi muda di negeri kita yang majemuk ini dapat mengenal dan memiliki kesetiakawanan atau solidaritas yang benar sejak dini.

Bagaimana menanam bibit kesetiakawanan ini? Caranya adalah dengan memiliki pikiran yang terbuka dan mau bertumbuh.  Growth mindset!  Pikiran yang mau berkembang.  Pikiran yang mau menerima perbedaan.  Pikiran yang mau melihat dari perspektif yang berbeda.  Pikiran yang membuat seseorang mau memberikan waktu dan kesempatan kepada orang-orang lain untuk juga mengalami perubahan.  Hanya orang dengan pikiran seperti inilah yang dapat menjadi setia kawan atau solider beneran.

Pikiran terbuka ini dimiliki oleh empat orang muda dari Nazareth.  Kalau tidak setia kawan, tidak mungkin mereka mau bersusah payah mengulurkan tangan menolong dan menggotong temannya yang lumpuh.  Berat euy!  Kalau tidak setia kawan, tentu mereka akan berkata, “Cukup sampai di sini saja.  Kita tidak bisa masuk lebih jauh ke dalam.  Tidak ada jalan lagi.  Ruangan ini penuh dengan orang.  Tidak mungkin kita bisa membawanya ke Yesus.”   

Tetapi keempatnya adalah orang-orang yang setia kawan beneran.   Itu yang membuat mereka tetap sepikir sepakat dan tidak menyerah begitu saja demi kebaikan temannya. Tidak heran mereka sampai begitu gigih mencari jalan bagaimana dapat membawa temannya tiba tepat di hadapan Yesus.  Atap rumah pun dibongkar (Markus 2: 1-12).  Dari mana rasa kesetiakawanan yang gigih itu muncul?  Itu muncul dari dalam, dari pikiran yang terbuka.  

Pikiran keempat orang muda ini adalah pikiran yang terbuka.  Terbuka pertama-tama kepada Yesus.  Mereka mampu melihat dari perspektif yang berbeda.  Sudah pasti mereka pernah mendengar apa yang dilakukan Yesus di kota-kota sebelumnya.  Sekarang Yesus ada di kota mereka, yang juga adalah kota asal Yesus.  Mereka berpikir, mungkin saja Yesus dapat juga melakukan suatu perubahan bagi temannya.  Why not?     

Yesus melihat pikiran mereka yang terbuka!   Alkitab mencatat demikian, “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu . . . (ayat 5).”   

Pikiran yang terbuka ini berbunga toleransi yang indah.  Mereka menghargai orang lain yang lebih dahulu hadir di dalam rumah itu.  Mereka tidak ngotot atau memaksa masuk, tetapi terbuka dengan cara lain.  Pikiran yang terbuka pada akhirnya menghasilkan buah yang manis.  Yesus mengadakan mujizat di sana bagi mereka.  Teman yang lumpuh menjadi sembuh.

Pikiran empat orang muda ini tidak sama dengan pikiran para ahli Taurat dan kebanyakan orang di Nazareth yang umumnya pada waktu itu memang menolak Yesus.  Orang lain tidak dapat melihat apa yang ada di dalam pikiran seseorang, tetapi Yesus dapat melihatnya.  Yesus dapat melihat pikiran yang terbuka dan pikiran yang tertutup kepada-Nya.   Itu sebabnya sesudah menyembuhkan orang lumpuh itu, Yesus menegur para ahli taurat karena Yesus tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka (ayat 8).   Karena pikiran yang tertutup ini, maka Yesus memang tidak banyak melakukan mujizat di Nazaret, di kota-Nya sendiri (Mat. 13: 58).

Melatih diri memiliki pikiran yang terbuka akan mendorong seseorang untuk mudah setia kawan atau solider dan memiliki toleransi yang tinggi.  Inilah cara menanam kesetiakawanan!

---------------

Pertanyaan untuk direnungkan!

  1. Apa saja yang menghalangi Anda memiliki sikap toleransi kepada orang lain?  Mengapa?
  2. Apa saja yang menjadi faktor seseorang memiliki pikiran yang tertutup (fixed mindset)?
  3. Bagaimana melatih diri Anda untuk memiliki pikiran yang terbuka (growth mindset)?
  4. Bagaimana melatih siswa atau anak Anda memiliki pikiran yang terbuka?

2020-10-16

Kooperatif

 

Kooperatif

Bacaan Alkitab hari ini:  1 Timotius 12: 17

“Tetapi justru karena itu aku dikasihani,  agar dalam diriku ini,  sebagai orang yang oaling berdosa,  Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya.  Dengan demikian akau menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup kekal.”(ayat 16)

Nilai kasih itu nyata melalui toleransi; dan orang yang toleran itu cirinya kooperatif.  Kooperatif itu suka untuk bekerja sama bersama-sama. 

Apakah mudah menjadi orang yang kooperatif?  Tidak mudah.  Menjadi orang yang kooperatif untuk mencapai suatu tujuan bersama sangat tidak mudah.  Dibutuhkan banyak sikap sabar dan menahan diri menerima segala kelebihan dan kekurangan anggota tim agar bisa tetap bekerja sama bersama-sama.  

Di dalam Alkitab, kata “toleransi” sejajar dengan kata Yunani makrothumia,  yang artinya panjang sabar dan menahan diri.  Pribadi yang menjadi contoh sempurna dalam hal ini adalah Tuhan kita, Yesus Kristus.  Ia adalah pribadi yang toleran dalam kekudusan-Nya dan mau memakai Paulus sebagai rekan dalam tim-Nya.  Siapa Paulus sehingga Tuhan mau pakai dia?  Bumi dan langit perbedaannya.  Bayangkan bagaimana karakter Tuhan yang panjang sabar dan dapat menahan diri di sepanjang via Dolorosa menuju kayu salib.   Berbeda jauh dengan karakter Paulus yang kasar dan reaktif, yang suka mengancam dan membunuh (Kis. 9:1).  Setelah bertobat, Paulus pun masih punya banyak kelemahan.  Ia sangat kaku dan tidak mau kooperatif ketika Barnabas mengeluarkan ide mengajak Markus turut serta dalam tim (Kis. 15: 37-39).  Syukurlah karakter ini diubah pelan-pelan oleh Tuhan dalam dirinya (Bdk. 2Tim. 4: 11).  Jadi, dalam relasi dan kebersamaannya dengan Kristus, Paulus menyadari betapa panjang sabarnya Tuhan Yesus terhadap dirinya.  Tentu mudah bagi Yesus untuk melakukannya karena Ia adalah Tuhan.  

Oleh karena mengalami contoh kasih Tuhan ini, maka Paulus pun menerapkannya dalam relasinya dengan Timotius dan rekan-rekan sepelayanan lainnya.  Tentu tidak mudah bagi Paulus.  

Menariknya, toleransi dalam aksara China adalah ? (r?n), diartikan menahan diri.  Aksara ini terbentuk dari dua gambar, yaitu pisau yang tajam pada bagian atas dan hati atau jantung pada bagian bawah.  Menahan diri itu seperti sebuah sikap hati yang tetap tak tergoyah menahan rasa sakit akibat pisau yang menusuknya.  Itulah karakter yang diperlukan dalam kooperatif, kerja sama bersama-sama.  Itulah toleransi yang sesungguhnya. 

_Kasih itu sabar (makrothumia), kasih itu murah hati.  1 Korintus 13: 4._

(@Renungan Nilai Inti SKKK Timika)

2020-10-15

Toleransi

Toleransi

Bacaan hari ini:  Yohanes 8: 1-11

Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.”  Lalu kata Yesus:  “Aku pun tidak menghukum engkau.  Pergilah,  dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (ayat 11).

Hidup kita bernilai jika kita memiliki nilai itu.  Salah satu nilai dalam core value “kasih” di SKKK adalah toleransi.  Beberapa hari ke depan kita akan merenungkan apa itu toleransi.  Kita bisa melakukan toleransi dengan benar ketika kita memegang nilai ini berdasarkan firman Tuhan dan menghidupinya.  Di sanalah hidup kita bernilai di hadapan Tuhan dan sesama.

Apa itu toleransi?  Toleransi adalah bagian dari kasih orang kristen kepada sesamanya, yang dimulai dari kasih Kristus yang dialaminya.    Tetapi apakah toleransi berarti menerima semuanya?  Apa batasan dalam bertoleransi?  Bagaimana bertoleransi dengan benar?  Jangan menyalahartikan toleransi Allah akan orang berdosa sebagai toleransi akan dosa.

Tuhan Yesus tidak pernah menerima dan membenarkan perbuatan zinah yang dilakukan oleh seorang wanita di dalam Yohanes 8.  Menurut hukum Taurat, wanita itu harus dirajam batu.  Namun Tuhan Yesus menunjukkan toleransi kudus-Nya.  Ia tidak melemparinya dengan batu, seperti yang dikehendaki para ahli Taurat dan orang Farisi, tetapi Ia dengan penuh kuasa berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”  

Ini sangat bertolak belakang dengan para ahli Taurat dan orang Farisi.  Mereka tega melakukan penghakiman dengan melempar batu, namun tidak kuasa menolak dosa sendiri.  Demikian juga halnya dengan kebanyakan kita, termasuk saya.  Lebih mudah melakukan penghakiman atas dosa orang dibanding menolak dosa yang kita lakukan sendiri.  Toleransi bukan berarti menerima perbuatan dosa, tetapi mengasihi orang berdosa dan menuntunnya berbalik kepada Tuhan.   Toleransi dimotivasi dengan mengingat kesabaran Allah terhadap segala kegagalan kita juga.   Kita dipanggil untuk menjalankan toleransi sebagai panggilan Tuhan dalam menjalani masa kesabaran-Nya saat ini di dunia.

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya,  sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian,  tetapi Ia sabar terhadap kamu,  karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa,  melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (2Pet. 3: 9).

Renungkan hal ini:

  1. Apa saja kegagalan atau dosa yang pernah kita lakukan dan Allah telah mengampuninya?
  2. Bagaimana saya memandang dan menilai orang lain ketika mendapatinya melakukan dosa?
  3. Apa saja tindakan kasih yang saya dapat lakukan sebagai toleransi kudus untuk menuntunnya kembali kepada Tuhan?
  4. Bagaimana saya mengajarkan toleransi di dalam rumah tangga? di dalam kelas saya?

*Belas kasihan menutupi lebih banyak dosa daripada hukuman (Henry Ward Beecher).*

2018-07-05

Mengucap Syukurlah!

Mengucap Syukurlah!

Satu dari tiga hal yang paling sulit untuk dapat dilakukan dalam setiap musim kehidupan ini adalah mengucap syukur.

Andai saja di dalam Alkitab tidak ditambah keterangan waktu atau situasi “dalam segala hal”,  mungkin saja mengucap syukur menjadi hal yang sangat mudah  untuk dilakukan.  Dalam hal-hal tertentu—bukan dalam segala hal,  mudah untuk mengucap syukur: mendapat cuti dan bisa traveling, punya toko yang selalu ramai oleh pelanggan, masuk ke kantor sama seperti ke toko hobby,  mendapat promosi atau kenaikan pangkat,   hati berbunga-bunga mendapat pasangan hidup yang telah lama didoakan, dikaruniai anak yang nurut,  diberikan kepercayaan melayani di tempat yang nyaman dan aman tanpa resiko, pulang ke rumah yang cozy dengan perabot tertata rapi.  Oh, serasa duduk di tepi pantai menikmati semilir angin surganya dunia.

Tetapi ketika mengalami hal-hal tertentu yang sebaliknya, rasanya akan sangat sulit untuk melakukan apa yang namanya mengucap syukur: hanya menikmati sebuah kota yang pemandangannya itu-itu aja, toko yang mulai sepi oleh pelanggan, ditinggalkan rekan bisnis,  punya atasan yang ngga sesuai kapasitas,  punya bawahan yang ngga nyambung,  masuk ke kantor rasanya seperti masuk ruang hampa udara,  karir yang kalo mau naik mesti pake ritual ancam sana sini dulu, baru nyadar ternyata salah pilih pasangan hidup atau males pulang ke rumah karena pasangan hidupnya sukanya mengeluh,  mendadak anggota keluarga mengalami sakit yang sangat berat, dipercayakan pelayanan yang beresiko tinggi,  pulang ke rumah yang bocor sana sini, dan sejuta kegetiran lain yang mencekat tenggorokan.  Oh, rasanya ingin cepat Tuhan datang kembali.

Tetapi Alkitab tidak salah ketika menambahkan keterangan waktu atau situasi “dalam segala hal.” Mengucap syukur dalam segala hal karena inilah yang dimau oleh Tuhan untuk dilakukan anak-anak-Nya.

Ada apa dibalik mengucap syukur dalam segala hal?  Bukankah mengucap syukur juga bukan sebuah mantra yang dapat mengubah keadaan buruk menjadi baik,  susah menjadi senang, rugi menjadi untung, dan  sakit menjadi sehat dalam sekejap?  

Lalu, apa untungnya mengucap syukur?  Tidak ada untung materi apa-apa.  Yang ada hanyalah buluh yang terkulai ditegakkan-Nya kembali,  sumbu yang telah pudar dibuat-Nya terang kembali.  Yang ada hanyalah hati rapuh yang akan  dikuatkan-Nya, dan hati yang tawar dihidupkan kembali oleh kehangatan cinta-Nya.  Bukankah ini sudah lebih dari cukup?

by. NLR

2018-06-25

TUHAN itu Raja, bukan asisten!

TUHAN itu Raja, bukan asisten!

Anda pasti setuju dengan judul di atas. Bahkan mungkin ada di antara pembaca yang mengatakan “Siapa juga yang bilang kalau Tuhan itu asisten?”  Ya, saya sangat yakin setiap kita akan mengatakan bahwa Tuhan itu raja. Tapi tanpa disadari, meski kita mengatakan bahwa Tuhan itu raja, kita sering memperlakukan Tuhan seperti seorang asisten bukannya sebagai raja!

Kata “Tuhan” yang sering kita temui dalam Perjanjian Baru, berasal dari bahasa Greek “kurios” yang berarti “supreme in authority” atau “tertinggi dalam otoritas” atau dalam bahasa sederhana bisa diartikan sebagai “penguasa tertinggi” atau raja.

Kita ambil contoh ayat yang mengandung kata “Tuhan”:

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”

Roma 10:9

“Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”

Kolose 3:24

Ya, kata “Tuhan” pada ayat-ayat di atas berasal dari kata “kurios” yang berarti “tertinggi dalam otoritas”.

Itu berarti, ketika kita mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, kita mengatakan bahwa Yesus adalah penguasa tertinggi dalam hidup kita!

Pertanyaannya adalah: Apakah kita sudah menjadikan dan memperlakukanNya sebagai penguasa tertinggi dalam hidup kita?

Atau jangan-jangan selama ini kita menganggap diri kita sendirilah pemilik dan penguasa hidup kita, dan hidup semau kita sendiri?

Ya, terkadang mudah untuk diucap, tetapi tidak mudah untuk dilakukan. Entah sudah berapa ribu kali kita berucap dan bernyanyi Yesus adalah Tuhan, tetapi hidup keseharian kita tidak mencerminkan bahwa Dia adalah penguasa tertinggi dalam hidup kita! Sebaliknya, tanpa disadari seringkali kita menjadikan Tuhan sebagai asisten, yang hanya kita panggil ketika kita dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan.

Jika kita mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan, semestinya kita meletakkan hidup kita di bawah kehendakNya. Dia adalah Tuhan, dan kita adalah hamba yang akan mentaaatiNya. Dia adalah penentu, dan kita akan mengikuti rencanaNya. Dia nomor satu, dan kita akan berjalan di belakangNya. Dia adalah pemilik hidup kita, dan kita tidak akan menjalani hidup kita tanpa melibatkanNya. Dia adalah pemimpin, dan kita akan berjalan mengikuti arah dan tujuanNya.

Sumber : https://saatteduh.com/tuhan-itu-raja-bukan-asisten/

Sekolah Kristen Kalam Kudus Timika ©